link rel="shortcut icon" href="/favicon.ico" >
Get Adobe Flash player
Please wait while JT SlideShow is loading images...
Sidang Paripurna
Pengadaan Barang&Jasa

MANUSIA GEROBAK PENGEMBARA IBUKOTA

 

Gerobak bertutup plastik itu terparkir di dekat lapangan Proklamasi di Jakarta Pusat. Awal Desember lalu,sekitar pukul 13.00,pemiliknya,Warsa tengah makan siang. Sebungkus nasi dengan lauk tempe dan secuil tahu disantapnya bersama istrinya. Mereka duduk dibawah pohon di pinggir trotoar. Begitu selesai menyantap makanan seharga sekitar Rp.6000 rupiah itu, Warsa lalu merokok. Sekitar satu jam pasangan suami istri itu rehat di sana sebelum kemudian mereka melanjutkan perjalanan.

 

 

 

Hari itu warsa akan mencari barang-barang bekas di sepanjang daerah Cikini sebelum kemudian sorenya ia menyetorkan ke pemilik lapak di manggarai. “Nanti setelah itu baru istirahat,” katanya. Seperti mendapat energi baru, setelah menyantap nasi dari warung tegal, ia dengan enteng menarik gerobaknya yang sarat dengan kertas dan kardus-kardus bekas beraneka ragam.

Warsa hanya satu dari puluhan manusia gerobak yang setiap hari melintasi atau berteduh di lapangan Proklamasi yang memang rimbun dengan pohon-pohon. Tidak jauh dari lapangan Proklamasi ada pula lintasan rel kereta api yang menuju stasiun Cikini. Di bawah rel ini pula setiap hari biasa ditemui komunitas manusia gerobak,para pemulung yang mencari barang-barang bekas dengan gerobak. Di dalam gerobak itu kadang ada pula anak-anak mereka yang masih usia balita. Jika bersama istrinya, biasanya istrinya berjalan dibelakang, semacam mengawasi gerobak yang ditarik suaminya.

Manusia gerobak adalah fenomena yang lazim ditemui di jalan-jalan Jakarta. Di sebut manusia gerobak karena gerobak itulah ciri khas mereka. Gerobak ukuran sekitar 1 X 2 meter tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat barang-barang bekas yang mereka peroleh untuk kemudian di jual lagi, tapi memiliki multifungsi, yakni sebagai tempat tidur, tempat menaruh piring,gelas dan kebutuhan sehari-hari,bahkan juga tempat berhubungan intim dengan istri. “fenomena manusia gerobak ini saya lihat makin banyak sekitar 1997, ketika terjadi krisis ekonomi,”kata Direktur Kesejahteraan Sosial Anak kementerian Sosial, Harry Hikmat.

Harry Hikmat pernah melakukan penelitian terhadap anak jalanan di Ibukota. Menurut harry saat penelitian itulah, mereka menemukan sejumlah anak-anak yang hidup nomaden, ikut bersama orangtuanya yang kesana-ke mari dengan gerobaknya. “mereka ini adalah korban-korban penggusuran,” katanya.

Manusia gerobak, kata Harry, pada mulanya adalah para pekerja informal yang juga memiliki rumah tinggal kendati hanya mengontrak dan kontrakan mereka mungkin diatas lahan illegal. Disana, mereka memiliki fasilitas listrik juga air. Anak-anak mereka pun bisa bersekolah. Tapi, karena hunian mereka kemudian digusur dengan berbagai alasan. Dan di Jakarta alasan penggusuran paling kerap dipakai adalah menempati tanah bukan haknya. Mereka kemudian pindah ke tempat lain yang “derajatnya” lebih rendah,seperti di bawah jembatan atau lahan kosong lainnya dengan bangunan seadanya. Namun, disini,Karena digusur, maka merekapun pindah lagi,sampai akhirnya mereka menjadi manusia gerobak. Pada tahap ini tak lagi terancam kena gusur, karena mereka sesungguhnya tak memiliki rumah selain gerobak itu sendiri. Satu-satunya ancaman adalah penggarukan yang dilakukan satuan polisi pamongpraja.

Sebenarnya manusia gerobak tidaklah semuanya tidur di gerobak. Menurut Abdul ghofur, yang mereka lakukan penelitian terhadap manusia gerobak di wilayah jatinegara,Jakarta Timur untuk studi S2-nya di Universitas Indonesia, selain memang ada yang tidur di gerobak, ada pula manusia gerobak yang memiliki tempat tinggal,yakni mengontrak. Mereka mengontrak biasanya karena istri mereka hamil atau anak mereka terlalu kecil untuk dibawa”mengembara’.

Kendati demikian, menurut Abdul Ghofur, manusia gerobak jenis ini tak membawa pulang gerobak mereka ke tempat kontrakan mereka. Gerobak selalu diletakkan disuatu tempat. Di luar mengontrak, ada pula yang lain, yakni membangun rumah-rumah kardus di tempat-tempat tertentu seperi di kolong jalan tol atau jembatan layang dan berukuran cukup untuk dua atau tiga orang. Gerobak mereka letakkan di dekat “rumah” mereka itu.

Tapi, kebanyakan manusia gerobak memang tidak memiliki tempat tinggal. Mereka biasanya dengan gerobak mereka,tinggal di emper-emper toko,taman,pasar atau stasiun. Jika di stasiun, mereka misalnya, jika malam hari bisa ikut menginap di stasiun. Di sana pun jika ingin mandi atau buang air cukup membayar seribu atau dua ribu rupiah.

Salah satu manusia gerobak yang tidak memiliki tempat tinggal adalah Gono. Mengaku berasal dari Semarang, ia selalu memarkir gerobaknya di sekitar Pasar Kebayoran. Ia memilih pasar karena di pasar ini banyak barang-barang bekas dan juga dekat dengan kamar mandi umum, serta banyak warung makan yang murah. Dari penghasilan menjual barang-barang seperti kardus yang sekilo Rp.1.800 ia mengaku setiap hari mendapat sekitar Rp.20.000. bahkan kadang lebih. Gono memiliki dua anak dan istri di kampung.

Seperti di Jakarta Pusat, di Jakarta Selatan pun manusia gerobak ini gampang ditemui dibawah jembatan layang Kebayoran atau dibawah kolong jalan Simatupang. Para manusia gerobak ini biasanya mulai beroperasi mencari barang bekas sekitar pukul 06.00 pagi dan pulang sekitar pukul 18.00.

Menurut Abdul Ghofur merebaknya manusia disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena makin meningkatnya barang-barang bekas seiring makin naiknya tingkat konsumsi warga ibukota, kedua pekerjaan ini tidak membutuhkan modal, ketiga resiko dar pekerjaan memulung itu kecil, dan keempat sebagai pilihan bekerja tidak dibawah tekanan atau singkatnya menjadi “manusia bebas,” tanpa mendapat ikatan dan paksaan dari siapapun. Karena itu, Abdul Ghofur menyimpulkan, gaya hidup menggelandang para manusia gerobak bukan hanya sesuatu hal yang disebabkan faktor ekonomi, tapi juga sebuah pilihan hidup.

Dalam penelitian yang dilakukan dari Desember 2007 hingga Maret 2008, Abdul Ghofur menghitung ada sekitar 126 manusia gerobak di Jatinegara, Jakarta Timur. Manusia gerobak itu, dari penelitiannya, rata-rata berpendiidikan SD. Walau demikian ada juga yang ditemukannya pernah duduk dibnagku kuliah. Jika berasal dari Jakarta mereka rata-rata dulunya adalah pekerja yang diberhentikan dari tempat kerja mereka dan rumahnya tergusur. Jika berasal dari luar daerah, mereka tergiur ke Jakarta karena teriming-iming karena mudahnya mendapat kerja di ibukota.

Manusia gerobak diJakarta berasal dari beragam wilayah. Di Jakarta Timur, misalnya, kebanyakan berasal dari Tambun Bekasi, indramayu, Cikampek, atau Cirebon. Adapun di Jakarta selatan, manusia gerobak banyak berasal dari daerah Tanggerang, Bogor, dan Serang.

Manusia gerobak selalu mendatangi sejumlah tempat yang selalu ada dan berpotensi menyediakan barang bekas yang masih layak jual. Tempat-tempat itu adalah jalanan (karena berpotensi menemukan berbagai limbah dijalan dan disana ada kotak sampah), penampungan sampah, pasar, pemukiman warga, dan tempat penampungan sampah baik tingkat RT, RW hingga TPA (Tempat penampunga akhir). Mereka bekerja juga memakai waktu. Berangkat pukul 06.00, istirahat sekitar pukul 12 hingga 13, lalu bekerja lagi dan kembali ke rumah pukul 18.00

Tak ada jumlah pasti berapa manusia gerobak di Jakarta. Pada tahun 2008 misalnya di Jakarta Pusat di perkirakan sedikitnya ada 2.000 manusia gerobak. Mereka antara lain tersebar di Tanahabang, Senen, dan kemayoran. Tapi tahun berikutnya jumlahnya menurun Dinas Sosial Jakarta Pusat menurun. Di Jakarta Selatan manusia gerobak bisa ditemukan di jalan raya Fatmawati, Blok M, Jalan Simatupang atau Kebayoran Lama. DiJakarta Pusat tempat favorit manusia gerobak adalah sekitar Tanah Abang dan stasiun Tanah Abang.

Ada pun di Jakarta utara, manusia gerobak bisa terlihat di stasiun kereta api dan sepanjang jalan menuju Tanjung Priuk. Di bulan Ramadhan, misalnya., manusia-manusia gerobak akan banyak bermunculan, memburu barang bekas, sekaligus mengharap sedekah warga Jakarta agar bisa mendapat uang untuk merayakan lebaran. “Selain hari raya idhul Fitri mereka juga akan terlihat banyak menjelang idhul Adha,” kata Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Utara, Marjito.

Menurut Marjito para manusia gerobak itu berdatangan antar lain dari Karawang. Mereka, menjelang lebaran, biasanya banyak mangkal di pinggir boulevard Kelapa Gading.”ini mengganggu ketertiban dan kenyamanan pejalan kaki,”katanya. Walau demikian Marjito melihat acara kuantitas, jumlah manusia gerobak di wilayahnya menurun. “Mereka yang bermunculan di hari lebaran itu kadang gerobaknya bukan milik sendiri, tapi menyewa,”kata Marjito harga sewa gerobak sehari,bervariasi, tergantung kondisinya. Jika jelek sekali Rp.5.000 per hari. Tapi jika bagus dan baru, perhari sekitar Rp15.000

Harry Hikmat menunjuk daerah pantura(Pantai Utara Jawa) paling banyak menyumbang manusia gerobak. Menurut Harry ini karena wilayah itu dilewati jalur darat yang cukup lancar menuju Jakarta dan jalur kereta api. Wilayah itu, antara lain, Indramayu,Cirebon,hingga Tegal. Di luar itu, manusia gerobak juga berdatangan dari Bogor,Bandung,dan daerah Banten, seperti Serang dan Tangerang.

Memang bukan berarti tidak ada sama sekali resiko mencari nafkah dengan menjadi manusia gerobak itu. Salah satunya adalah razia yang dilakukan satuan polisi pamong praja. Jika ini terjadi, maka gerobak mereka akan disita, mereka ditangkap dan dimasukkan ke panti sosial dan kemudian dipulangkan ke kampung mereka. Menurut salah satu manusia gerobak, Salim,jika pun mereka kena garuk dan gerobaknya disita, mereka memilih membiarkan,tidak menebus. “karena pasti membayar mahal, lebih baik beli gerobak bekas,”ujarnya. Salim bercerita untuk menebus gerobak,mereka membayar hingga Rp.400 ribu padahal, jika beli bekas, harganya di bawah itu.

Dinas sosial ibukota ,memang memiliki agenda rutin untuk merazia para pengemis,anak-anak jalanan, dan manusia gerobak. Menjelang lebaran lalu, misalnya, dinas sosial Jakarta Selatan melakukan razia terhadap manusia gerobak. Tercatat sekitar 70 manusia gerobak ditangkap dan dikirim ke panti sosial Kedoya. “ini sebagai shock therapy ”kata miftah dari pelayanan rehabilitasi social dinas social Jakarta Selatan. Menurut miftah cara seperti ini mujarap. Sebagian dipulangkan kemudian kapok ke Jakarta. “Dalam pengamatan saya jumlah manusia gerobak di Jakarta selatan kini berkurang,”katanya. Miftah sendiri tak tahu persis berapa jumlah manusia gerobak di wilayahnya. “belum ada pendataan,”ujarnya.

Selain resiko penertiban dari satuan polisi pamong praja, resiko lainnya adalah kecelakaan lalu lintas, di serempet atau ditabrak kendaraan. Kejadian semacam ini kerap terjadi karena manusia gerobak ada kalanya melawan arus untuk memperpendek jarak tempuh mereka. Resiko lain adalah ditabrak atau dilindas kendaraan saat mereka tertidur lelap di jalanan.

Peristiwa mengenaskan seperi ini, misalnya, pada Mei lalu menimpa seorang wanita manusia gerobak bersama anak perempuannya yang masih balita. Saat itu karena masih mengantuk wanita tersebut meminta izin pada pemilik truk tronton yang sedang parker di jalan MT.Haryono, Jakarta selatan, untuk tidur di bawah kolong truk. Supir mengizinkan karena truk sedang mogok. Beralas selendang, perempuan itu lalu mengajak anaknya berbaring di bawah truk, sedang gerobaknya ditaruh di pinggir jalan.

Beberapa jam kemudian datang truk gandeng membawa batu bata. Truk itu berjalan oleng dan menabrak tronton yang sedang parkir. Kecelakaan pun terjadi, manusia gerobak bersama anaknya tewas tergilas. Kepada polisi, Bejo, supir truk tronton, mengaku mengizinkan manusia gerobak tidur di kolong truknya. “karena mobil mogok, saya kasih izin,”katanya. Ada pun truk gandeng sendiri diketahui kabur.

Menurut Harry yang paling menghawatirkan dari manusia gerobak adalah nasib anak-anak mereka. “Praktis tidak sekolah” katanya. Dalam jangka panjang, ini otomatis akan menimbulkan masalah baru, karena tanpa pendidikan, mereka sulit mendapat kehidupan untuk mendapat kehidupan lebih baik. Menurut Harry kebijakan memulangkan mereka ke daerah asal tidak menyelesaikan masalah. Yang terpenting, menurut dia, adalah mengubah pola piker,mindset mereka, yakni, berkeinginan hidup lebih baik dan memikirkan masa depan anak-anak mereka. Itulah yang kini dikerjakan oleh Kementerian Sosial dengan menerjunkan para pekerja sosial ke tengah masyarakat termasunk rumah-rumah singgah.

Bagi Wakil Ketua Komnas HAM, M. Ridha Saleh, maraknya manusia gerobak, seperti halnya anak jalanan, gelandangan dan pengemis, merupakan problem ibukota. “Dari perspektif HAM itu merupakan bentuk kelalaian Negara,” kata Ridha. Ridha menunjuk hak yang paling tercabut dari mereka adalah hak atas kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan ekonomi. “Mereka tak memiliki akses pekerjaan atau akses perumahan yang mestinya kewajiban Negara untuk menyediakannya,”katanya.

Karena itulah, kata Ridha, merazia dan memulangkan mereka ke daerah juga tak akan menyelesaikan persoalan. Yang mesti dilakukan pemerintah memeperbaiki dan membuat kebijakan sedemikian rupa, sehingga tersedia lapangan kerja, terutama didaerah, sehingga pemenuhan kebutuhan ekonomi mereka tercukupi dan mereka tak tertarik datang ke Jakarta, apalagi tanpa memiliki keterampilan sama sekali.

Mobile Read

Publish : -

Penulis : Can/Waf/Tim Suar - Yudiansyah

Sumber : SUAR No.3 Tahun 2011

Terakhir diperbaharui (Kamis, 23 February 2012 11:50)

 
Pengaduan
Komnas HAM Klarifikasi Pengaduan Warga, Pencemaran Lingkungan dan Kerusakan Fasum Akibat Tambang
13/04/2012 | swip
article thumbnail

TENGGARONG - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengadakan kunjungan ke Pemkab Kutai Kartanegara, beberapa waktu lalu terkait sejumlah surat pengaduan [ ... ]


Artikel Lainnya
Data dan Info Pengaduan
Jajak Pendapat
Menurut anda, Bagaimana Pelayanan Pengaduan Kasus-kasus HAk Asasi Manusia di Komnas HAM ?
 
mod_vvisit_counterHari ini888
mod_vvisit_counterKemarin2354
mod_vvisit_counterMinggu ini10995
mod_vvisit_counterMinggu lalu19607
mod_vvisit_counterBulan ini81379
mod_vvisit_counterBulan lalu48208
mod_vvisit_counterTotal Kunjungan1806978

We have: 10 guests, 23 bots online
IP anda: 38.107.179.229
 , 
Tanggal: 23 May, 2012