link rel="shortcut icon" href="/favicon.ico" >
Get Adobe Flash player
Please wait while JT SlideShow is loading images...
Sidang Paripurna
Pengadaan Barang&Jasa

KISAH PARA ODMK YANG TELAH PULIH

Banyak kisah eks-orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) di Indonesia yang menguras air mata. Temuan lapangan menunjukkan, jaminan untuk hidup layak di semua aspek seperti social, ketenagakerjaan, pendidikan, dan lainnya tidak pernah terpikir diwujudkan dalam program dan kebijakan. Aspek kesehatan masih mendominasi.

 

Lalu, tingginya angka kematian merupakan potensi besar yang ada di depan mata para ODMK mengingat penyiksaan fisik bersifat masif dan sporadic menjadi makanan sehari-hari. Kasus lain mengungkapkan tidak sedikit ODMK menjadi korban pemerkosaan, pembunuhan, dan kasus kriminalitas lainnya.

Berangkat dari kegiatan penelitian, tulisan ini tidak saja menyampaikan sejumlah rekomendasi hasil penelitian. Yang lebih penting adalah bagaimana gambaran proses pencarian data yang sarat akan cerita di balik kehidupan OMDK. Berikut cuplikan pengalaman hidup mereka yang pernah menjadi OMDK.

OMDK Karena Guna-guna?

Keseharian KTT yang pernah menjadi ODMK adalah bekerja membuat kain di salah satu wilayah di Bali. Sebelum menjadi ODMK, KTT bisa menghasilkan 1 kain selama 2 minggu. Setelah pulih, satu kain baru bisa diselesaikan dalam sebulan.

Awal mulanya, setelah pulang dari warung membeli benang, KTT merasa kurang sehat. Kondisi tersebut tidak berubah selama beberapa jam sampai kemudian KTT tidak kuat menahan sakit dan mengamuk di lingkungan rumahnya.

Menurut keluarga, KTT kemungkinan diguna-guna. Peristiwa guna-guna atau santet adalah kejadian lumrah di lingkungannya. Demikian pula pemasungan. KTT pun sempat dipasung dan ditelantarkan.

Suatu ketika keluarga KTT didatangi salah satu sukarelawan dari organisasi swasta yang menangani ODMK. Mereka menawarkan obat yang dikonsumsi secara teratur. Berangsur-angsur KTT pulih, meski masih tergantung pada obat.

Kisah ini sarat akan pesan-pesan moral bernuansa HAM. Perempuan ODMK yang diwakili KTT menjadi penyangga keluarga melalui keterampilannya. Di sisi lain, ia juga menjadi rentan dalam nilai-nilai adapt tertentu, terutama menyangkut nilai-nilai keyakinan dan keperayaan lokal.

Kisah ini sekaligus menggambarkan upaya maksimal yang dilakukan pemerintah setempat terutama dalam menyediakan rumah sakit jiwa dan obat-obatan. Perawatan melalui RSJ sampai saat ini masih cukup berat bagi sebagian besar masyarakat yang tinggal di pelosok mengingat keberadannya di tingkat kabupaten. Pemerintah perlu membenahi kebijakan pelayanan kesehatan dasar di wilayah terpencil untuk mengakomodir kebutuhan pelayanan kesehatan bagi ONDK yang tinggal di pelosok.

Lalu, ada indikasi pembiaran yang dilakukan negara dengan tidak dilakukannya upaya-upaya siginifikan untuk mengurangi peristiwa pemasungan, yang kental terhadap tindakan penyiksaan dan kekerasan dan berkontribusi terhadap terjadinya pelanggaran hak hidup. Perlu langkah-langkah koordinasi yang konkret lantaran masih banyak masyarakat yang masih melakukan pemasungan karena minimnya pengetahuan.

ODMK Lantaran Obat-obatan Terlarang

AR mengaku mulai mendapatkan obat-obatan dari teman sekolahnya di SMA. Perkenalannya dengan obat-obatan membuat dirinya mulai merasakan keanehan: asing dengan diri sendiri, rumah, dan lingkungan. Namun, AR bisa menyelesaikan sekolah dengan nilai cukup baik.

Setelah lulus, AR sempat bekerja di Perusahaan swasta, meski hanya setahun. Saat bekerja AR masih mengkonsumsi obat-obatan. Lalu, AR mulai kuliah di salah satu perguruan tinggi. Sebelum masuk kuliah, ia pernah anfal setelah memakai obat jenis valium, mentalin. AR mulai mendengar bisikan dan berhalusinasi bahwa ajal segera menjemput. Ia didiagnosis mengalami stress. Setelah agak pulih, AR sempat kuliah kembali tapi mengalami kesulitan karena didiagnosis menderita Schizopheria Paranoid. Ia pun menjalani perawatan di salah satu rumah sakit jiwa di Bogor. Masa-masa sulit terus dialami dalam upaya penyembuhan penyakitnya.

AR kemudian berpindah rumah sakit untuk lebih menekan biaya transportasi, lalu dirujuk di Puskesmas di bilangan Tebet. Ia pun mulai teratur minum obat dan mengenal secara dalam penyakitnya. Kondisinya terus membaik, dan mulai menjadi asisten dokter dan ditugaskan mengunjungi teman-teman pasien-pasien OMDK di rumahnya.

Berangkat dati kisah AR diatas, terungkap bahwa factor lingkungan dan pergaulan menjadi salah satu factor pemicu, di mana AR dapat dengan bebas membeli barang-barang haram tersebut. AR mungkin salah satu orang yang berasal dari keluarga menengah secara ekonomi, tapi biaya ke rumah sakit tetap saja tidak mencukupi. Perlu kebijakan khusus dari pemerintah agar mereka yang tidak mampu secar ekonomi dan menjadi ODMK dapat memiliki akses untuk memeriksakan kesehatannya. Kisah AR juga mengungkap pentingnya dukungan keluarga dalam rangka pemulihan.

ODMK Karena Beban Beban Keluarga dan Bencana

AN dan R memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda, tapi mengaku pernah menjadi ODMK karena tingkat depresi dan stress yang cukup tinggi.

AN berasal dari keluarga berkecukupan. Ia mendapatkan fasilitas pendidikan yang cukup baik sampai lulus kuliah S2. Setelah itu, ia mengaku sempat ingin bunuh diri karena frustasi lama tidak mendapatkan pekerjaan dan tinggal jauh dari keluarga. Untungnya ia sempat tersadar. Hampir semua jenis obat penenang strs ditenggaknya, tapi tidak ada pemulihan secara kontinu.

Di saat dirinya jatuh, AN mengaku mendapatkan dukungan dari temna-teman sekitar. Ia sempat pula mendatangi psikiater. Kini kehidupan AN berjalan dengan baik dan bekerja di salah satu perusahaan besar.

Adapun R, mengaku mengalami stress berat saat seluruh keluarganya hilang karena tsunami Aceh. R mengaku tidahk tahu harus harus berbuat apa. Sepanjang waktunya dihabiskan untuk melamun memikirkan diri dan keluarganya yang hilang. Sampai saai ini R pun kesulitan bercerita segala sesuatu mengenai tsunami. Ia merasakan gejala psikopsikis. Saat diwawancarai dalam penelitian ini pun penulis mengalami kesulitan mendalami perihal kejadian masa lalu yang menyebabkan ia OMDK.

Namun, perlahan, ia mau bercerita. Ia tersadar, masa lalu tidak harus membuatnya semakin terpuruk. Dua tahun pasca-bencana, R bangkit dan sudah mulai mau bergul dengan lingkungan sekitar.

Pengalaman AN dan R merupakan kisah sukses eks-ODMK yang saat ini sudah dapat belajar dari kondisi diri sendiri. Beban berat justru memicu mereka untuk terus berusaha dalam mancapai kehidupan yang layak. Keduanya bahkan menyarankan pemerintahan sebagai rekomendasi penelitian untuk memaksimalkan peran institusi Negara dalam menangani persoalan kesehatan jiwa seperti pendirian trauma healing di daerah bencana atau klinik yang dapat secara cuma-cuma memberikan pelayanan bagi para OMDK.

 

 

Editor : Agatha Ayuningtyas

Terakhir diperbaharui (Jumat, 15 July 2011 15:52)

 
Pengaduan
Komnas HAM Klarifikasi Pengaduan Warga, Pencemaran Lingkungan dan Kerusakan Fasum Akibat Tambang
13/04/2012 | swip
article thumbnail

TENGGARONG - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengadakan kunjungan ke Pemkab Kutai Kartanegara, beberapa waktu lalu terkait sejumlah surat pengaduan [ ... ]


Artikel Lainnya
Data dan Info Pengaduan
Jajak Pendapat
Menurut anda, Bagaimana Pelayanan Pengaduan Kasus-kasus HAk Asasi Manusia di Komnas HAM ?
 
mod_vvisit_counterHari ini3517
mod_vvisit_counterKemarin2354
mod_vvisit_counterMinggu ini11145
mod_vvisit_counterMinggu lalu19168
mod_vvisit_counterBulan ini84008
mod_vvisit_counterBulan lalu48208
mod_vvisit_counterTotal Kunjungan1809607

We have: 34 guests, 17 bots online
IP anda: 38.107.179.230
 , 
Tanggal: 23 May, 2012